Yang Berubah Menjelang Usia Tiga Puluh Tahun
Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menuliskan ini, tapi kalimat itu sudah cukup lama beredar di internet dan entah bagaimana selalu berhasil menghentikan jari saya setiap kali ia muncul di layar:
"at some point you gotta be real with yourself about the gap between the life you want to live and the life that your daily habits are leading you towards."
Setiap kali membacanya, ada sesuatu yang bergerak — tidak nyaman, tapi juga tidak bisa diabaikan. Bukan karena kalimat itu kejam, tapi justru karena ia sangat jujur. Ia memaksa kita melihat sesuatu yang selama ini mungkin kita hindari: jarak. Jarak antara apa yang kita bayangkan tentang hidup kita, dan ke mana sebenarnya hidup kita sedang berjalan hari demi hari. Dan jarak itu, kalau kita mau benar-benar melihatnya dengan mata terbuka, kadang bisa sangat jauh.
Saya membawa kalimat itu dalam kepala ketika kemudian, di sebuah forum Maiyah, saya mendengar Sabrang Mowo Damar Panuluh mengatakan sesuatu yang menurut saya berhubungan langsung dengannya meski dari sudut yang berbeda — bahwa manusia adalah satu-satunya hewan yang punya perasaan takut kehabisan waktu. Waktu itu saya mendengarnya dan tidak langsung paham maksudnya, yang saya rasakan pertama kali justru semacam pengakuan yang datang sebelum pemahamannya sendiri menyusul, seperti badan yang sudah mengerti sesuatu sebelum kepala sempat merumuskannya dengan kata-kata. Baru belakangan, ketika usia tiga puluh sudah begitu dekat dan kepala saya sudah begitu penuh, saya akhirnya mengerti mengapa kedua hal itu terasa seperti dua sisi dari keresahan yang sama. Takut kehabisan waktu. Takut bahwa jarak antara mimpi dan kebiasaan itu terlalu besar untuk bisa ditutup oleh sisa perjalanan yang ada.
Dan saya sedang merasakannya. Sekarang, cukup sering.
Saya sekarang sedang melanjutkan studi, saya juga baru saja menikah, dan saya juga bekerja sehari-harinya. Kemudian saya punya beberapa proyek yang sedang berjalan dan beberapa lagi yang masih duduk manis dalam kepala, menunggu giliran yang entah kapan datangnya. Kalau ditulis begini, deretan itu terasa seperti pencapaian — dan mungkin memang begitu seharusnya dipandang, dan saya bersyukur untuk semuanya. Tapi ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dari luar: betapa beratnya kepala yang menampung semua itu sekaligus, betapa sering rasa lelahnya bukan fisik tapi semacam lelah yang lebih dalam, lelah dari terlalu banyak hal yang menuntut perhatian dalam waktu yang sama.
Menikah membawa kebahagiaan yang jelas, itu tidak perlu diragukan. Tapi ia juga membawa sesuatu yang baru dalam cara saya memandang prioritas — sebuah tanggung jawab yang bukan hanya lebih besar dari sebelumnya, tapi juga berbeda sifatnya. Sebelumnya, ketika saya berjuang dengan keterbatasan sumber daya sambil mengejar mimpi-mimpi saya, paling tidak risikonya adalah milik saya sendiri. Saya yang capek, saya yang kecewa, saya yang harus bangkit lagi. Tapi sekarang ada orang lain yang hidupnya juga terikat dengan pilihan-pilihan yang saya buat. Ada masa depan bersama yang harus dipikirkan, ada keamanan yang harus dijaga, ada hal-hal yang tidak lagi bisa saya tunda hanya karena saya sedang ingin mengejar sesuatu yang belum tentu berhasil. Tanggung jawab itu bukan beban dalam arti yang buruk — ia adalah konsekuensi dari sebuah pilihan yang saya buat dengan sadar dan saya tidak menyesalinya. Tapi ia mengubah cara saya menghitung, dan penghitungan yang baru itu tidak selalu menghasilkan angka yang menyenangkan.
Sebab bahkan sebelum menikah pun, saya sudah cukup sadar diri untuk tahu bahwa saya bukan orang yang punya banyak resources. Saya tahu ini bukan keluh kesah — ini hanya kenyataan yang saya lihat dengan cukup jelas. Saya tidak berdiri di tanah yang memudahkan segala hal, dan saya tidak punya cadangan yang membolehkan saya salah terlalu banyak atau terlalu mahal. Mimpi-mimpi saya harus dibangun bata demi bata, perlahan, dari apa yang ada, dan saya sudah lama menerima itu sebagai cara kerjanya. Tapi kini, ketika tanggung jawab bertambah dalam skala yang berbeda, saya mendapati diri saya merenung lebih dalam dari biasanya: dengan keadaan saya yang lebih muda dan lebih bertenaga saja mimpi-mimpi itu tidak mudah — bagaimana dengan sekarang, ketika bensin saya sama terbatasnya tapi muatan di bak belakang sudah jauh lebih berat? Apakah saya mampu? Apakah saya akan cukup?
Pertanyaan itu tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras dan eksplisit. Ia lebih sering datang dalam bentuk yang lebih halus — dalam rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul, dalam pikiran yang menyelinap masuk tepat sebelum tidur, dalam momen-momen sepi ketika saya membaca kalimat di internet tentang jarak antara mimpi dan kebiasaan itu, dan jarak itu terasa sangat nyata.
Tapi ada sesuatu yang juga saya sadari, semakin sering semakin jelas, seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pengalaman melihat hidup — baik hidup saya sendiri maupun hidup orang-orang di sekitar saya. Bahwa mungkin, begitulah memang sewajarnya hidup sebagai manusia biasa di Indonesia. Dan saya mengatakannya bukan sebagai keputusasaan, bukan sebagai seorang yang menyerah dan kemudian membalutnya dengan kata-kata yang terdengar bijak. Saya mengatakannya sebagai seseorang yang sudah cukup banyak melihat untuk mulai memahami bahwa dunia ini jauh lebih kompleks dari narasi yang selama ini paling keras bersuara — narasi yang mengatakan bahwa kalau kamu cukup kerja keras, cukup gigih, cukup mau berkorban, semua mimpi pasti bisa tercapai. Narasi itu tidak salah sepenuhnya, tapi ia juga tidak lengkap. Dan ketidaklengkapan itu, kalau kita telan mentah-mentah tanpa dikunyah dulu, bisa sangat berbahaya — ia membuat kita menghakimi diri sendiri dengan standar yang tidak pernah benar-benar adil.
Saya melihat orang yang jauh lebih muda dari saya dengan karir dan pencapaian yang luar biasa. Dan saya juga melihat orang yang sudah jauh lebih lama berjuang dari saya dengan hasil yang tidak sebanding dengan usahanya. Apakah semua yang terjadi itu murni soal individunya — soal seberapa keras ia berusaha, seberapa pintar ia bergerak, seberapa berani ia mengambil risiko? Bisa jadi iya, untuk sebagian. Tapi bisa jadi tidak, untuk bagian yang lebih besar dari yang biasanya kita mau akui. Ada pendidikan yang diterima atau tidak diterima sejak kecil. Ada keluarga yang menjadi fondasi atau menjadi hambatan. Ada lokasi geografis yang menentukan akses. Ada sistem negara yang membuka jalan untuk beberapa orang dan menutupnya untuk yang lain. Ada modal sosial yang diwarisi atau yang harus dibangun dari nol. Ada kesempatan yang datang karena waktu dan tempat yang tepat, bukan semata karena kesiapan. Ada begitu banyak faktor yang bekerja jauh sebelum seseorang sempat mencoba — dan faktor-faktor itu tidak tersebar merata, mungkin tidak pernah merata.
Mungkin memang ada beberapa manusia tertentu yang mampu melenting sangat jauh melampaui semua itu. Selalu ada. Tapi mereka tidak pernah sebanyak itu. Tidak pernah sebanyak jumlah orang yang diberitahu bahwa mereka juga bisa menjadi seperti itu kalau hanya cukup berusaha. Dan bisa jadi kita salah satunya — orang yang bisa melenting jauh itu. Tapi sangat mungkin juga bukan kita. Dan yang ingin saya katakan, dengan cukup yakin, adalah: itu tidak apa-apa. It's okay. Mengakuinya bukan kekalahan. Mengakuinya adalah kejujuran yang butuh keberanian tersendiri.
Lalu apa yang kita lakukan dengan semua kesadaran itu?
Sebagian orang memilih satu mimpi dan mengejarnya habis-habisan, melepaskan yang lain dengan atau tanpa kerelaan. Sebagian lain mencoba mengejar semuanya sekaligus dan kelelahan di tengah jalan. Dan sebagian yang lain lagi — saya rasa saya termasuk dalam kelompok ini — memilih untuk berhenti sejenak, duduk, dan membaca peta perjalanan hidupnya. Tidak berlari dulu. Hanya melihat. Dan di situlah kita menemukan masalahnya: ketika kita berhenti cukup lama untuk benar-benar menatap peta itu, kita juga berhenti cukup lama untuk melihat jarak, jarak antara titik di mana kita berdiri sekarang dan titik yang dulu pernah kita tandai sebagai tujuan. Selama kita berlari, jarak itu tidak terasa, karena kaki terus bergerak dan kepala tidak punya waktu untuk menghitung. Tapi dalam keheningan berhenti itulah, jarak itu tiba-tiba terlihat dengan sangat jelas. Wah, ternyata masih sejauh ini. Lalu muncul pertanyaan berikutnya: apa iya bisa sampai? Dan kalau sudah diusahakan sekuat mungkin, sudah berlari sampai napas habis, tapi ternyata tetap tidak sampai, itu artinya apa?
Bagi saya — dan ini adalah kesadaran yang datang perlahan, tidak sekaligus — membaca peta dengan jujur bukan tentang menyerah. Ia tentang tidak berlaku gegabah. Sebagai orang yang resources-nya terbatas, saya tidak punya kemewahan untuk gas terus ke segala arah. Bensin saya terbatas. Muatan saya sudah bertambah. Saya tidak bisa dengan sembarangan mencoba jalan ini dan itu, membakar bahan bakar yang tidak banyak itu hanya untuk menemukan bahwa jalan yang saya coba ternyata buntu. Yang bisa saya lakukan — yang bisa kita lakukan, mungkin — adalah membaca peta itu dengan jujur: saya ini mau ke mana, saya sekarang ada di mana, dan dari posisi ini dengan apa yang saya punya, jalan mana yang paling mungkin untuk ditempuh. Bukan jalan yang paling cepat. Bukan jalan yang paling dramatis. Tapi jalan yang paling mungkin, dari sini, dengan ini.
Dan mungkin di situlah letak kedewasaan yang sesungguhnya — bukan pada semangat yang tidak pernah padam, tapi pada kejujuran untuk melihat diri sendiri apa adanya. Bukan diri kita dalam angan-angan, bukan diri kita di skenario terbaik yang kita bayangkan, tapi diri kita yang sekarang, dengan kemampuan yang sekarang, dalam kondisi yang sekarang. Itu memang pil yang pahit. Saya tidak akan berpura-pura bahwa ia mudah ditelan. Bahkan memikirkannya pun masih sering membuat saya tidak nyaman, masih sering ada bagian dari diri yang bergumam bahwa ini terasa seperti menyerah, bahwa harusnya saya lebih ambisius, bahwa orang-orang yang hebat tidak berpikir seperti ini. Tapi semakin ke sini saya semakin percaya bahwa ketidaknyamanan itu bukan tanda bahwa saya salah — ia justru tanda bahwa saya sedang tumbuh, sedang belajar menerima kenyataan yang lebih utuh dari sekadar narasi yang menyenangkan.
Ada sesuatu yang saya ingat dari pelajaran sains waktu sekolah dulu — tentang batu yang berlubang bukan karena dipukul keras, tapi karena terkena tetesan air yang kecil, terus-menerus, tanpa henti. Tetesan itu tidak pernah merasa kuat. Ia tidak pernah merasa mampu melubangi batu. Ia hanya jatuh, lagi dan lagi, di tempat yang sama. Dan lama-kelamaan, batu itu berlubang.
Saya rasa kitalah tetesan-tetesan air itu. Kita mungkin tidak cukup kuat untuk menghancurkan batu sekaligus. Kita mungkin tidak akan melihat hasilnya hari ini, bulan ini, atau bahkan tahun ini. Tapi kalau kita terus jatuh — terus berusaha, terus bergerak, terus mencoba dari posisi kita yang sekarang — ada sesuatu yang terjadi, meski pelan, meski tidak selalu terlihat. Dan yang lebih menarik lagi: mimpi itu tidak harus selesai di tangan kita. Energi dari usaha kita, dari langkah-langkah kecil yang kita ambil, bisa beresonansi dengan usaha orang lain. Bisa dilanjutkan oleh seseorang yang datang setelah kita, dengan bentuk yang berbeda, dengan cara yang kita tidak bayangkan sebelumnya. Mungkin mimpi kita bukan tentang kita yang sampai di garis finish — mungkin ia tentang kita yang menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang lebih panjang dari hidup kita sendiri. Dan itu, menurut saya, bukan kekalahan. Itu justru sesuatu yang lebih besar.
Emha Ainun Nadjib pernah menulis sesuatu yang dulu saya kutip dalam kata pengantar tugas akhir S1 saya — dan belakangan ini kalimat itu kembali kepada saya dengan berat yang berbeda dari ketika pertama kali saya membacanya:
"Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah. Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tidak berjuang."
Waktu S1 dulu, saya mengutip itu dengan semangat yang masih sangat idealis, dengan rasa bahwa kalimat itu adalah motivasi untuk terus berlari. Sekarang saya membacanya dengan cara yang berbeda — lebih tenang, lebih dalam. Ia bukan tentang memaklumi kekalahan. Ia tentang belajar menilai diri bukan dari hasil, tapi dari usaha yang kita lakukan. Kelihatannya sederhana, tapi tidak sesederhana itu.
Jadi saya kembali pada kalimat yang saya buka di awal tulisan ini:
"at some point you gotta be real with yourself about the gap between the life you want to live and the life that your daily habits are leading you towards."
Kali ini, setelah semua yang saya pikirkan di atas, saya membacanya dengan cara yang sedikit berbeda. Ia bukan lagi terasa seperti tuduhan — seperti seseorang yang menunjuk jarak itu dan berkata "lihat betapa jauhnya kamu dari mimpimu." Ia terasa lebih seperti undangan untuk jujur. Untuk benar-benar melihat di mana kita berdiri dan ke mana kita sedang berjalan. Bukan untuk menghukum diri, tapi untuk bergerak dengan lebih sadar — dengan kesadaran tentang siapa kita, apa yang kita punya, apa yang tidak kita punya, dan dari sana, apa yang masih bisa kita lakukan.
Tiga puluh tahun. Sekolah yang belum selesai. Pernikahan yang baru saja dimulai. Proyek-proyek yang sedang dan ingin berjalan. Mimpi-mimpi yang jumlahnya tidak pernah berkurang meski waktu yang tersedia tidak bertambah. Saya tidak tahu apakah semua ini akan berakhir seperti yang saya harapkan. Saya tidak tahu apakah tetesan-tetesan kecil yang saya jatuhkan setiap hari itu pada akhirnya akan melubangi sesuatu yang berarti. Tapi saya tahu satu hal: saya masih ingin jatuh. Masih ingin mencoba. Masih ingin berjuang — bukan karena yakin akan menang, tapi karena Tuhan tidak mewajibkan kita untuk menang,
"...yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tidak berjuang".


Comments
Post a Comment