Menjelang Tiga Puluh

Ada satu momen yang mungkin tidak banyak orang berani akui: ketika kamu duduk diam, menatap langit-langit kamar di malam yang biasa saja, dan tiba-tiba bertanya dalam hati "apakah mimpi-mimpi itu masih mungkin?"

Saya mengalaminya. Dan semakin dekat saya ke angka 30, pertanyaan itu semakin sering datang, kadang tanpa diundang.

Dulu, waktu masih remaja, mimpi terasa seperti sesuatu yang ringan. Ia melayang-layang di udara, mudah diraih kalau mau melompat. Dunia terasa seperti selembar kertas kosong yang bisa diisi apa saja. Tidak ada yang namanya batas, tidak ada yang namanya terlambat. Semua terasa mungkin.

Tapi usia bergerak. Dan bersamanya, dunia terasa semakin berat. Bukan karena kita melemah, tapi karena kita mulai melihat dengan lebih jelas.

Ketika Mimpi Bertemu Realitas

Saya bukan sedang berbicara tentang menyerah. Saya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih rumit dari itu, tentang kesadaran yang datang perlahan, seperti kabut pagi yang mengisi ruang tanpa kita sadari kapan ia tiba. Dan ketika kita akhirnya memperhatikannya, ia sudah ada di mana-mana.

Semakin dewasa, kita mulai menyadari bahwa hidup kita tidaklah 100% berada dalam genggaman kita sendiri. Ada begitu banyak tangan tak kasat mata yang ikut menggerakkan arah kita: ideologi yang kita serap sejak kecil, sistem negara tempat kita lahir, kultur yang membentuk cara kita memandang dunia, pendidikan yang kita terima (atau tidak terima), kesempatan yang datang atau tidak datang, modal yang ada atau tidak ada.

Bahkan lebih jauh dari itu, kehendak yang kita rasa datang dari dalam diri kita sendiri pun, sangat mungkin bukan kehendak yang murni. Keinginan kita untuk menjadi ini atau itu, untuk mengejar mimpi A atau mimpi B, sangat mungkin sudah dipengaruhi oleh puluhan, ratusan faktor eksternal yang bekerja jauh sebelum kita sadar sedang dipengaruhi.

Seorang anak yang tumbuh di keluarga dengan akses pendidikan yang baik, koneksi sosial yang luas, dan stabilitas ekonomi yang cukup, cenderung mimpi-mimpinya akan terasa lebih mudah. Bukan karena ia lebih berbakat, tapi karena tanah tempatnya berpijak memang lebih subur. Sementara anak yang lain, dengan bakat yang setara atau bahkan lebih, tumbuh di tanah yang berbeda. Dan tanah itu ikut menentukan seberapa jauh akarnya bisa menjangkau.

Ini bukan soal takdir yang fatalistik. Ini soal kompleksitas yang jujur.

Jadi, Apakah Ini Berarti Kita Menyerah?

Tidak. Sama sekali tidak.

Tapi saya ingin mengajak untuk membedakan dua hal yang sering kita campur aduk: menyerah dan sadar.

Menyerah adalah ketika kita berhenti bergerak karena kita tidak mau lagi. Tapi sadar adalah ketika kita mengubah cara bergerak karena kita akhirnya mengerti medannya.

Seorang pendaki yang bijak bukan pendaki yang terus memaksakan diri mendaki tebing terjal dengan cara yang sama ketika ia sudah berkali-kali jatuh. Pendaki yang bijak adalah yang mau berhenti sejenak, membaca medan, mencari jalur lain yang mungkin lebih panjang, lebih berliku, tapi lebih bisa dilalui.

Merasa tidak mampu mewujudkan mimpi bukan berarti mimpi itu salah. Bisa jadi jalan yang kita pilih yang perlu dipertanyakan ulang. Atau bisa jadi skalanya yang perlu diubah, bukan diturunkan, tapi dipecah menjadi lebih manusiawi.

Milestones Kecil di Tengah Dunia yang Besar

Ada sebuah filosofi sederhana yang saya percaya belakangan ini: jadilah air.

Air tidak pernah melawan batu besar secara frontal. Ia mencari celah. Ia sabar. Ia tidak terburu-buru. Tapi pada akhirnya, ia yang membentuk lembah, ia yang mengukir ngarai, ia yang menembus ke tempat-tempat yang sebelumnya tampak mustahil dijangkau.

Mungkin itulah yang bisa kita lakukan sekarang. Bukan menatap mimpi besar itu dari kejauhan dengan campuran harapan dan ketakutan yang makin berat. Tapi memecahnya. Mereduksinya ke dalam milestones-milestones kecil yang lebih konkret, lebih terukur, lebih mungkin untuk dilakukan hari ini, minggu ini, bulan ini.

Bukan karena mimpi besarnya tidak layak. Justru sebaliknya, karena mimpi itu terlalu berharga untuk dibiarkan menggantung tak terjamah seumur hidup.

Tentang Perasaan yang Tidak Apa-Apa Itu

Saya ingin menutup dengan sesuatu yang mungkin tidak sering dikatakan:

Tidak apa-apa merasa seperti ini.

Perasaan bahwa mimpi-mimpi itu terasa jauh, bahwa waktu terasa mulai menipis, bahwa dunia lebih kompleks dari yang dibayangkan dulu, itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa kamu sudah cukup jujur dengan dirimu sendiri.

Sebagian besar orang mungkin merasakan hal yang sama persis. Hanya saja tidak semua orang cukup berani untuk duduk bersamanya, merasakannya dengan penuh, dan kemudian memilih untuk tetap berjalan (bukan karena tidak takut), tapi karena sudah tidak mau berpura-pura bahwa jalan itu rata.

Usia 30 bukan garis finish dari mimpi-mimpi yang belum terwujud. Ia bisa jadi adalah titik di mana kita akhirnya cukup dewasa untuk bermimpi dengan cara yang lebih bijak.

Kita tidak menyerah. Kita terus berjalan. Tapi kali ini, dengan kesadaran yang baru.

Comments

Popular Posts