Skip to main content

Posts

Featured

Menjelang Tiga Puluh

Ada satu momen yang mungkin tidak banyak orang berani akui: ketika kamu duduk diam, menatap langit-langit kamar di malam yang biasa saja, dan tiba-tiba bertanya dalam hati "apakah mimpi-mimpi itu masih mungkin?" Saya mengalaminya. Dan semakin dekat saya ke angka 30, pertanyaan itu semakin sering datang, kadang tanpa diundang. Dulu, waktu masih remaja, mimpi terasa seperti sesuatu yang ringan. Ia melayang-layang di udara, mudah diraih kalau mau melompat. Dunia terasa seperti selembar kertas kosong yang bisa diisi apa saja. Tidak ada yang namanya batas, tidak ada yang namanya terlambat. Semua terasa mungkin. Tapi usia bergerak. Dan bersamanya, dunia terasa semakin berat. Bukan karena kita melemah, tapi karena kita mulai melihat dengan lebih jelas.

Latest Posts

Selera, Estetika, Kuasa, dan Algoritma

Jika Kartini Mendesain Sebuah Kota

Mensyukuri Kasih Sayang

Bukankah Kita Terlalu Banyak Bicara?

Dialektika Sepeda Kita

Mengapa Aku Menulis

Tidak Pernah Ada yang Bercerita bahwa Menjadi Orang Baik Itu Tidak Mudah

Negara Tanpa Tuhan

Dialektika Cinta dan Benci Arsitektur Futuristik

Saat Manusia Tiada Mengiya, Kepada Cermin Ia Bicara