Menjelang Tiga Puluh
Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menuliskan ini, tapi kalimat itu sudah cukup lama beredar di internet dan entah bagaimana selalu berhasil menghentikan jari saya setiap kali ia muncul di layar: "at some point you gotta be real with yourself about the gap between the life you want to live and the life that your daily habits are leading you towards." Setiap kali membacanya, ada sesuatu yang bergerak — tidak nyaman, tapi juga tidak bisa diabaikan. Bukan karena kalimat itu kejam, tapi justru karena ia sangat jujur. Ia memaksa kita melihat sesuatu yang selama ini mungkin kita hindari: jarak. Jarak antara apa yang kita bayangkan tentang hidup kita, dan ke mana sebenarnya hidup kita sedang berjalan hari demi hari. Dan jarak itu, kalau kita mau benar-benar melihatnya dengan mata terbuka, kadang bisa sangat jauh. Saya membawa kalimat itu dalam kepala ketika kemudian, di sebuah forum Maiyah, saya mendengar Sabrang Mowo Damar Panuluh mengatakan sesuatu yang menurut saya berhubun...





