Manusia-Manusia Gua
Hari ini kehidupan telah membawa kita pada suatu fase yang ujungnya tak dapat kita terka. Ibarat kita masuk ke dalam sebuah terowongan namun ujungnya tak terlihat sama sekali, secercah cahaya pun tiada.
Hari ini kita tersesat bersama dalam sebuah terowongan besar dan gelap itu. Orang-orang yang tadinya kita amanahi sebagai pemegang obor ketika cahaya terlelap sepertinya tidak bisa diandalkan sama sekali. Entah mereka yang bingung cara menyalakan obor atau memang mereka sengaja tak menyalakannya.
Hari ini manusia penghuni terowongan gelap itu morat-marit kacau balau. Mencoba kembali ke pintu terowongan tak mungkin, berjalan menuju ujung tak mampu pula. Tapi jangan-jangan apa yang dimasuki oleh manusia ini bukanlah terowongan, namun sebuah gua. Siapa tau memang tak ujungnya, hanya jalan buntu yang gelap gulita.
Sebagian kita berlari-lari dan berteriak ketakutan. Merasa terjebak. Sebagiannya lagi tak peduli dengan apa yang terjadi. Sebagian yang lain memilih menggila sebab hidup hanya sekali dan sayang seribu sayang bila harus mati tanpa pernah menggoreskan sejarah meski sebuah sejarah kegelapan.
Apa yang terjadi pada dunia hari ini adalah sebuah gambaran riil atas kemorat-maritan umat manusia. Ditengah bencana yang tidak terpetakan ini, manusia melupakan asal-usulnya sebagai sebuah ciptaan. Kesombongan dan kesempitan manusia membawanya semakin jauh pada hakikat kehidupan. Manusia terlalu tamak dan hanya peduli dalam penagihan atas haknya tetapi lupa sebelum hak ada kewajibannya.
Didalam kemorat-maritan dunia ini, manusia memilih mengikuti arusnya daripada berusaha untuk kembali pada hakikatnya. Padahal jalan baginya untuk kembali begitu jelas. Bukankah kita begitu senang dengan mudik?
Barang kali bila memang kita terjebak dalam gua yang tiada ujungnya, maka kita mau menjadi manusia macam apa? Yang berlari dan berteriak ketakutan? Yang tidak peduli? Yang menggila? Atau yang mau kembali kepada hakikatnya?
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada sekelompok pemuda yang mengungsi ke dalam sebuah gua. Tidak diketahui sesungguhnya berapa jumlah pemuda itu. Mereka tertidur disana dalam jangka waktu yang tak diketahui pula berapa lama waktunya. Orang-orang lantas berspekulasi ini-itu. Menerka-nerka sembari menyalahkan terkaan orang lain. Berdebat dan membenarkan apa yang diyakininya sendiri. Menghabiskan waktu untuk perkara-perkara yang kurang penting. Sedang mereka sesungguhnya lupa, lupa akan hakikatnya, wa qulil-ḥaqqu mir rabbikum. Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu”



Comments
Post a Comment