Mensyukuri Kasih Sayang



Sudah sekian lama saya tak lagi mendengarkan Maiyah melalui platform YouTube. Selain kegiatan terbarunya juga jarang (karena Covid-19), kesibukan yang kini saya hadapi setiap hari cukup menyita waktu. Namun tak pelak, Maiyah selalu saja membuat saya rindu atas banyak hal. Mungkin ini terasa asing dan aneh, banyak hal itu apa saja? Wong ya isinya ngobrol-ngobrol saja. Tetapi bagi yang mengikuti forum ini, saya meyakini bahwa apa yang saya rindukan ini juga dirindukan oleh mereka.

Momen-momen maiyah dalam diri saya entah kenapa selalu bangkit melalui stimulus-stimulus yang terjadi pada diri saya dalam suatu momen tertentu. Salah satunya ialah momen ketika hati tengah berbunga-bunga. Aliran kasih sayang yang meluap-luap itu membawa saya pada pernyataan mas Sabrang dalam salah satu maiyah yang pernah saya dengarkan.

Pada pernyataannya mas Sabrang mengingatkan bahwa cinta itu bukanlah transaksi sehingga tidak ada ceritanya ketika kita jatuh cinta lantas akan dicintai pula sebaliknya. Mencintai itu mencintai saja, titik. Bila kita memberi hadiah, lantas hadiahnya tidak diterima oleh seseorang, maka hadiah itu akan kembali kepada kita. Serupa dengan cinta, bila kita memberikannya dan ternyata tidak diterima, maka yang akan kembali kepada kita adalah cinta itu pula.

Selanjutnya mas Sabrang mengatakan bahwa cinta itu selayak bunga yang harum. Untuk itu kita harus merawatnya, menyiraminya, memupukinya, memastikannya mendapatkan cahaya yang cukup sehingga nantinya akan mekar dan orang-orang akan mencium harumnya cinta dari dalam hatimu.

Cinta pada dasarnya tidak butuh syarat, oleh karenanya jangan pernah menuntut kebahagiaan dari pasanganmu. Pastikan bahwa sebelum kamu mencintai seseorang, kamu sendiri sudah harus bahagia, sehingga nantinya perlombaannya bukanlah untuk saling membahagiakan, tetapi saling berbagi kebahagiaan.

Lebih dari pada itu, satu hal yang begitu saya hayati dalam pernyataan mas Sabrang adalah untuk mensyukuri dan menikmati rasa cinta/kasih sayang. Diberikan perasaan jatuh cinta saja, itu sudah sangat membahagiakan. Sudah tidak perlu berharap yang lain-lain. Cukup syukuri dan nikmati apa yang telah Tuhan anugerahkan ke dalam qalbu kita.

Nasihat itu sudah saya dengar sejak bertahun-tahun lalu, tetapi tak kunjung saya mengerti juga apa maksudnya. Tetapi dalam beberapa momen belakangan ini, sepertinya saya mulai mengerti. Hal ini bisa kita tarik dalam pengertian yang jauh lebih luas daripada hanya cerita cinta dua orang insan. Tetapi, pernahkah kalian patah hati? Bagaimanakah rasanya? Menyakitkan bukan? Bahkan untuk menikmati indomie kuah dimalam yang hujan saja rasanya hambar. Menikmati taman bunga serta melihat kucing kecil berkelahi saja mungkin sudah tidak ada rasa menyenangkan sekalipun.

Bila saat membaca ini kalian tidak sedang mengalami patah hati, bagaimana kiranya rasanya menyantap indomie kuah dimalam yang hujan? Mantap sekali bukan? Lantas bagaimana rasanya melihat kucing-kucing kecil sedang berkelahi? Sungguh menggemaskan bukan? Pada momen inilah sesungguhnya waktu yang sangat tepat untuk kita bersyukur atas nikmat cinta yang dikaruniakan Tuhan pada kita. Bila saja tidak ada nikmat cinta itu atau bila saja nikmat itu sedang dijilbabi perasaan yang lain, maka keindahan semacam itu tidak akan pernah kita mengerti.

Pada dasarnya Tuhan sudah dan selalu meletakkan kasih sayang dalam qalbu kita, kini saatnya kita dengan penuh kesadaran memulai untuk mensyukurinya.

Comments

Popular Posts