Selera, Estetika, Kuasa, dan Algoritma

Tulisan ini adalah tulisan yang tertunda cukup lama. Tulisan ini adalah tulisan yang membahas arsitektur. Saya kepikiran untuk menulis ini setelah saya mendengar dan membaca beberapa tulisan tentang beauty industrial complex, estetika, penguasa, dan algoritma.

Dari keempatnya, mungkin hanya satu kata yang cukup saya kuasai, yaitu estetika (karena latar belakang saya adalah seorang desainer). Sedangkan untuk yang lainnya masih samar-samar bagi saya. Namun sebagai manusia yang bernafsu, mohon maafkanlah saya yang agak ngotot ingin menulis tulisan ini. Anggap saja saya sama sekali tidak serius dalam tulisan ini, anggap saja ini hanyalah tulisan seorang desainer yang mencoba menghubung-hubungkan beberapa kata menjadi sebuah tulisan.

Beauty industrial complex pertama kali saya dengar disebuah video YouTube. Disitu sang narasumber menjelaskan yang intinya bahwa standar kecantikan yang kita kenal hari ini adalah buatan manusia. Standar kecantikan itu dirancang sedemikian rupa demi melancarkan bisnis-bisnis kosmetik yang berada dibelakangnya. Jadi bisa dibayangkan bahwa persepsi kita akan cantik itu bukanlah murni dari kesadaran kita, melainkan dipengaruhi oleh orang-orang yang berkepentingan dibelakangnya. Seolah-olah siapapun yang tidak memenuhi standar cantik dari mereka adalah orang yang jelek. Sangat dikotomis sekali pembelahannya, hitam dan putih. Tanpa terasa hal ini membuat banyak orang mengalami stres. Seolah menjadi yang liyan hanya karena tidak memenuhi standar buatan orang-orang dibalik industri tersebut.

Lantas apa hubungannya semua ini dengan arsitektur? Baiklah, izinkanlah saya mulai melakukan jampe-jampe untuk connecting the dots diantara semua kata tersebut.

Algoritma, tentu hal ini sesuatu yang kini tak lagi asing bagi telinga kita. Kita hidup bersamanya, berdampingan, atau bahkan mungkin kita sudah dikuasainya. Algoritma tanpa disadari selalu membawa kita dalam sebuah echo chamber. Ketika kita suka dengan A maka ia akan menyarankan kita sesuatu yang lain yang berkaitan dengan A. Oleh karenanya kita akan terjebak dalam pusaran yang tidak menyehatkan. Kita hanya akan diperlihatkan sesuatu yang kita suka/setujui. Segala sesuatu yang berlawanan dengan itu tidak akan disarankan olehnya untuk kita lihat. Padahal sebagai manusia yang selayaknya bersikap bijaksana, kita perlu melihat sesuatu diluar apa yang kita suka/setujui. Gunanya adalah sebagai bahan pertimbangan, bisa jadi apa yang kita sukai justru tidak baik untuk kita, dan bisa jadi pula sebaliknya. Algoritma membawa kita semakin berjarak dari nasihat itu.

Kini bayangkanlah bila sesuatu yang kita sebut A tadi adalah sebuah desain arsitektur. Entah kenapa orang-orang Indonesia umumnya punya sindrom-sindrom keminderan yang masih bersarang kuat dalam dirinya. Segala sesuatu yang dipunyai barat selalu kita anggap lebih baik dari pada yang kita punyai. Seolah-olah semua yang digunakan oleh bule-bule itu keren dimata orang Indonesia, dan tak terkecuali adalah soal desain arsitektur. Kita ambil contoh saja rumah atau gedung misalnya. Sepengalaman saya berbincang dengan teman-teman yang tidak berlatar belakang arsitektur, mereka mengidamkan rumah yang modern minimalis dengan kaca-kaca besar pada bukaannya, begitu juga dengan gedung misalnya. Akan sangat keren bila bisa bekerja di gedung pencakar langit yang banyak kacanya itu. Akhirnya dicarilah gambar-gambar melalui search engine atau platform lainnya tentang gambar-gambar rumah/gedung yang mereka idamkan, maka setelah itu algoritma akan membawa mereka pada petualangan yang menyilaukan tentang gambar-gambar lain yang berkaitan dengan apa yang baru saja mereka buka. Gambar-gambar lain yang tidak berkaitan dengan itu tidak akan muncul dalam handphone/komputer mereka. Informasi mengenai arsitektur nusantara, kearifan lokal, penjelasan tentang iklim tropis lembab yang kita punyai tidak akan sampai pada mereka. Begitulah cara algoritma menjauhkan kita dari kebijaksanaan. Selera dan estetika kita bukan kita sendiri yang menentukan, melainkan sudah terpengaruh atau bahkan terbias dan terdistraksi oleh algoritma.

Selain daripada itu, ada satu kekuatan besar lain selain algoritma yang mampu mendikte selera dan estetika kita. Kekuatan ini jauh lebih konvensional dari pada algoritma tetapi masih relevan hingga sekarang, ialah sesuatu yang kita biasa sebut sebagai kekuasaan. Jika teman-teman sangat kagum dengan Kota Paris, ketahuilah bahwa desain kota itu bisa terwujud karena kekuasaan saat itu yang menginginkannya. Bahkan style pada bangunan-bangunannya dinamai dengan nama rajanya tersebut. Sekali lagi, semua itu terwujud karena kekuasaan yang menginginkannya. Mungkin saja saat itu ada alternatif desain lain yang disodorkan kepada raja, tetapi karena raja tidak menginginkan itu maka semua alternatif itu tidak diwujudkan. Ini adalah sebuah gambaran singkat bagaimana arsitektur terwujud karena kekuasaan.

Apakah praktik ini hanya terjadi di Kota Paris? Tentu saja tidak. Saya rasa, praktik tersebut terjadi di setiap daerah manapun di muka bumi ini. Mungkin kini bukan lagi raja yang memegang kekuasaannya, bisa aja pemerintah atau orang-orang yang berpengaruh lainnya.

Lantas ketika kita menyadari bahwa kekuasaan tetaplah dipegang oleh manusia, yang mana manusia itu hidup di zaman ini dan dipengaruhi oleh segala yang terjadi di zaman ini. Maka kita kini bisa melihat bahwa kekuasaan juga akan terpengaruh oleh algoritma. Algoritma yang kemudian menjebak kita dalam sebuah echo chamber lama kelamaan akan membentuk suatu “beauty industrial complex" baru. Beauty industrial complex versi arsitektur dimana defisit kebijaksanaan dan mental kita yang kurang percaya diri akan membuat pikiran kita menjadi “oh, yang indah itu yang seperti ini, kayak di Amerika/Eropa. Yang bersih, yang rapi, putih, minimalis, teratur, penuh kaca, dll".

Kini bayangkanlah apa jadinya kekuasaan yang terbiaskan oleh algoritma. Akan seperti apa jadinya wajah kota kita nanti? Hal ini tentu perlu menjadi perhatian kita mengingat pada tahun 2030 setengah dari penduduk bumi akan pindah ke kota. Jika kota tidak tertangani dengan baik maka dampaknya akan sangat fatal bagi kehidupan manusia didalamnya, yang mana kita mungkin termasuk didalamnya. Ini bukanlah perkara yang masih nanti akan terjadi, sesungguhnya ini sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Contoh kasus yang paling bisa kita lihat adalah penggusuran kampung kota yang kemudian masyarakatnya dipindah begitu saja ke dalam rusun vertikal.

Rusun vertikal ini adalah sebuah produk beauty industrial complex versi arsitektur yang terwujud berkat kekuasaan yang terbiaskan oleh algoritma. Bangunan vertikal layaknya apartemen di Barat ini dinilai efektif akan menyelesaikan permasalahan kepadatan penduduk kampung kota. Kenyataannya, ada banyak bukti dalam jurnal-jurnal yang ditulis oleh civitas akademika kita yang membuktikan bahwa hal tersebut tidaklah efektif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, malah terkadang justru menambah permasalahan. Baik masalah dari segi arsitektural maupun non-arsitektural.

Pada sisi yang lain, kini kita mulai melihat juga dari sudut masyarakat yang mulai menyenangi desain dengan tagline “minimalis" yang wujudnya berupa rumah kubus berwarna putih polos dengan jendela yang tidak bisa dibuka. Bagi yang mengerti tentang iklim negara Indonesia, tentunya desain semacam itu tidaklah tepat. Desain seperti itu membuat udara tidak bisa masuk ke dalam rumah, idealnya udara bisa masuk dan juga bisa keluar dengan leluasa. Hal ini akan membuat udara didalam rumah lebih sehat serta membuat suhu dalam ruangan bisa lebih nyaman. Tentu kini kita bisa menggunakan teknologi seperti AC, tetapi kita tahu bahwa penggunaan AC yang berlebihan juga kurang baik. Selain membuat listrik rumah meningkat konsumsinya, konsumsi freon dalam AC juga akan meningkatkan “kadar” global warming yang kini dampaknya mulai kita rasakan. Ini baru dalam satu segi, yaitu penghawaan. Masih ada banyak hal lain yang bisa dibahas. Sesungguhnya tidak ada yang salah dalam desain, mau desain seaneh apapun tidak ada salahnya, tetapi mungkin disana bisa jadi ada yang tidak tepat. Ketidaktepatan ini bisa jadi karena kurangnya pengetahuan, tetapi bisa jadi pula karena desire yang berlebihan atas sebuah style yang diidam-idamkan. 

Pada akhirnya apa yang ingin saya sampaikan disini adalah mencoba untuk menjelaskan secara singkat relasi antara beauty industrial complex, estetika, penguasa, dan algoritma. Selera estetika (dalam hal ini arsitektur) kita sebagai individu maupun sebagai penguasa tidak bisa dipungkiri akan terpengaruh oleh kekuatan algoritma yang kini menggurita. Selera atas estetika itu lantas lama-kelamaan akan membentuk sebuah beauty industrial complex baru (versi arsitektur) yang mana hal tersebut akan berdampak tidak hanya secara visual tetapi juga secara sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik.

Hal semacam ini mungkin jarang sekali diperhatikan, tetapi bagi para insan yang mempunyai pengetahuan dan sadar akan pentingnya kesadaran konteks dalam desain seharusnya isu semacam ini wajib menjadi perhatian yang sangat krusial.

Tulisan ini bukan untuk mengejek atau mencemooh desain-desain yang hari ini dilabeli sebagai desain yang modern dan kekinian, tetapi sebagai sebuah ajakan untuk berpikir apakah yang dilakukan hari ini sudah tepat. Manusia yang tidak mengenali dirinya sendiri pada akhirnya akan tersesat karena tidak mampu bertahan diterpa ombak yang kian membesar. Sama halnya dengan desain, desain yang tidak mengenali tempat dimana dia berasal hanya akan tumbang dan menjadi sejarah kelam. Hal ini sudah pernah terjadi dan berkali-kali, semoga kita menjadi insan yang mau belajar dari sejarah.


Comments

Popular Posts