Bukankah Kita Terlalu Banyak Bicara?


Hari ini telah memasuki hari ke 23 di tahun 2021. Virus Corona masih ada, begitu pula media sosial.

Entah kenapa sepertinya saya punya relasi cinta dan benci dengan platform yang disebut media sosial ini. Pada satu sisi, saya menggunakannya untuk bersosialisasi dan juga untuk mengaktualisasikan diri. Tetapi pada sisi yang lain ada saja hal yang membuat saya sebal disini, walau mungkin tidak pada tempatnya bila saya katakan saya sebal dengan media sosial (karena sesungguhnya yang membuat saya sebal adalah orang-orang didalamnya).

Saya secara pribadi tidak pernah menutup akun media sosial saya. Cukup berbeda dengan beberapa teman saya yang mungkin sudah kepalang pusing dan kesal hingga akun media sosialnya ada yang ditutup. Sejauh ini saya masih bisa bertahan walau dengan banyak keresahan.

Keresahan saya bukanlah tentang buzzer yang menyebalkan itu, kita semua sepertinya bisa bersepakat bahwa bila ada yang disebut sebagai rahasia umum, maka bolehlah kita menyepakati bahwa buzzer adalah sebuah “kekesalan umum". Siapa yang tidak kesal dengan buzzer?

Keresahan yang ingin saya curhatkan disini adalah, bukankah kita terlalu banyak bicara di media sosial? Terlalu banyak nyinyir untuk hal-hal yang kurang penting dan tidak seharusnya dipublikasikan. Walau ini mungkin terkesan tidak ada hubungannya, tetapi sebagai sebuah negara republik, semestinya kita memahami konsep dasar tentang republik. Ia berasal dari bahasa latin “res publica" yang berarti urusan publik. Ada juga yang namanya “res privata" yang berarti urusan privat. Setidaknya warga Republik Indonesia seharusnya mengerti dan memahami konsep dasar ini. Tetapi saya menyadari bahwa pada kenyataannya tidak semuanya begitu dan justru karena itu lah mungkin kita kurang terdidik tentang apa-apa yang sifatnya privat dan apa-apa yang sifatnya publik.

Sekarang cobalah tengok ke media sosial masing-masing, berapa banyak informasi yang sifatnya privat justru bertebaran disana? Baru saja saya menyaksikan sebuah tweet di Twitter mengenai seseorang yang menyebarkan screenshot Whatsapp temannya. Pada screenshot itu isinya adalah chat tentang temannya yang sedang bertengkar dengan pacarnya. Sungguh saya kurang mengerti apa motivasinya untuk menyebarkan hal semacam itu. Bukankah itu urusan pribadi temannya? Seandainya dia dicurhatipun, tidak selayaknya ia menyebarkannya di media sosial.

Setelah itu yang membuat saya semakin heran adalah bagaimana bisa tweet semacam itu begitu banyak di respon orang hingga akhirnya mampir ke timeline saya. Seandainya tweet tersebut tidak direspon (di reply, retweet, dan disukai) tentunya hal itu tidak akan menyebar sampai seluas ini. Bukankah ini berarti cukup banyak orang di Twitter kita yang juga menyukai hal yang tidak selayaknya dikonsumsi?

Keresahan berikutnya adalah tentang mereka yang entah datang dari mana tiba-tiba menghujani kolom reply/komentar dengan kata-kata yang sangat tidak pantas. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi dalam diri mereka hingga mereka dengan sebegitu gampangnya memerintah jempol-jempol mereka untuk mengetikkan kalimat semacam itu.
Beberapa orang semacam ini pernah kena batunya ketika ia didatangi oleh seseorang yang ia hujat di media sosialnya. Tentu teman-teman pernah mendengar banyak kejadian semacam ini. Akhirnya pun ketika ia didatangi yang ada dia tidak berani apa-apa. Ternyata tidak segarang dan seganas saat di media sosial. Mentalnya di dunia maya dan di dunia nyata ternyata sungguh berbeda jauh.

Barangkali manusia hari ini sudah seperti amoeba. Mampu membelah diri, tetapi bukan fisiknya, melainkan mentalnya. Ia mampu membelahnya ke dalam dua dunia yang berbeda. Ada yang pernah mengatakan bahwa mereka-mereka ini sesungguhnya adalah orang yang kalah di dunia nyata, sehingga karenanya, di dunia maya dimana mereka bisa bersembunyi dibalik topeng “anonymous”, mereka bisa semacam membalas dendam atau mengeluarkan hasrat yang mungkin selama ini mereka pendam di dunia nyata. Hal ini mungkin terdengar menarik karena media sosial bisa menjadi tempat untuk melarikan diri dan membuang “sampah". Tetapi kalau sampahnya dilempar ke orang lain, rasanya kurang bijaksana juga

Akhir kata, bijaklah dalam bermedia sosial. Kalau ingin nakal, setidaknya nakalah untuk dirimu sendiri. Tidak perlu membawa orang lain masuk ke dalamnya. Pahami juga mana masalah privat dan masalah publik. Tidak semua hal bisa diumumkan kepada dunia.

Comments

Popular Posts