Jika Kartini Mendesain Sebuah Kota

Selamat Hari Kartini untuk seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya perempuan, tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Momen Hari Kartini selalu menjadi momen yang menarik untuk diperbincangkan. Gagasan yang ditorehkan oleh ibu kita yang satu ini masih saja selalu hangat bak makanan lezat yang baru saja ditiriskan dari perapian.

Supaya tidak kalah lezatnya, dalam tulisan ini saya ingin mencoba untuk membawa kita menyusuri anak sungai yang lain. Secara umum, isu-isu keperempuanan bermuara pada tuntutan kesetaraan hak dan kesempatan. Pada tulisan ini masih sama, tetapi bingkainya akan saya geser sedikit. Saya tidak akan membahas isu hukum disini atau isu-isu seputar kekerasan terhadap perempuan, tentu ini isu yang penting, bukan bermaksud saya mengabaikannya. Tetapi jujur saja saya mengakui bahwa saya tak menguasainya. Oleh karenanya izinkanlah saya untuk membawa bingkai itu ke dalam isu yang sedikit saya pahami, yaitu isu arsitektur dan perencanaan kota.

Kita telah mengetahui bersama bahwa ketidaksetaraan ada di mana-mana, tak terkecuali pada ranah arsitektur dan perencanaan kota. Barangkali ada yang mengalami sendiri, ketika anda seorang wanita dan bekerja di bidang konstruksi, maka kemungkinan orang yang anda ajak bicara akan mengernyitkan dahi. Dia (kemungkinan) kaget sekaligus agak tidak percaya. Padahal kalau dipikir-pikir, ya apa salahnya sih? Ini baru soal stigma unum.

Stigma yang lain mungkin muncul dalam proses desainnya. Ada kesulitan-kesulitan sosial yang dialami perempuan dalam menyampaikan pendapat. Terkadang hasil kerja keras dan penyampaian gagasan dari teman-teman perempuan nampak tidak dihargai dan itu bukan karena idenya yang tidak bagus, tetapi karena dia seorang perempuan (sungguh aneh bukan?). Selain itu ada hal-hal yang umumnya tidak dimengerti laki-laki dalam sebuah desain. Misalnya, saya (seorang laki-laki) sesungguhnya kurang tahu menahu tentang apa yang dilakukan para perempuan di toilet. Saya masih tidak mengerti kenapa mereka begitu lama di sana, tetapi saya rasa mereka punya alasan untuk hal tersebut. Oleh karenanya, mendesain toilet untuk perempuan sesungguhnya hal yang membingungkan untuk saya. Saya tidak tahu apa yang mereka butuhkan di sana sehingga saya tidak bisa menerka kebutuhan ruang apa saja yang mereka butuhkan. Belum lagi mereka punya siklus menstruasi. Sesuatu yang sama sekali tidak saya alami sebagai laki-laki. Saya terkadang bertanya-tanya, apakah desain toilet bahkan desain closet yang ada sekarang ini memudahkan mereka (para perempuan) dalam urusan tersebut?

Ini baru soal toilet. Sebuah sudut kecil yang mendasar dalam ruang hidup kita. Belum lagi soal lift, tangga, tempat wudhu, mushola, ruang menyusui, dan lain sebagainya. Itu pun baru berkisar dalam lingkup bangunan/gedung. Belum soal jalanan, lampu, trotoar, taman, transportasi umum, gang-gang, dan lain sebagainya. Ada banyak ruang yang di mana pada ranah tersebut perempuan tidak diikutkan andil dalam mendesainnya. Bila saya boleh berspekulasi, desain bangunan atau kota akan sangat berbeda sekali bila didesain oleh perempuan. Membayangkan bagaimana seorang perempuan mendesain tempat wudhu di masjid saja, menurut saya akan sangat menarik. Pasti akan berbeda dari kebanyakan desain tempat wudhu yang kita kenal selama ini. Atau bahkan dalam lingkup yang lebih kecil bisa saja kita coba, misalnya sekali-kali kita bisa adakan kompetisi mendesain kursi yang nyaman untuk diduduki saat menstruasi. Pasti akan sangat menarik.

Ada banyak sekali proses desain yang sesungguhnya bisa diceritakan. Tetapi tentu akan membuat tulisan ini semakin panjang dan tak berkesudahan. Tulisan ini tidak semata-mata dibuat hanya karena sedang momen Hari Kartini, tetapi merupakan sebuah rasa penasaran sekaligus kagum dari diri saya sendiri terhadap perempuan. Selama ini perempuan tidak diberikan ruang yang cukup (atau mungkin bisa dibilang ruangnya dirampas) untuk menumpahkan isi pikiran dan karya-karyanya. Sebagai seorang pekarya, rasa haus kita akan sesuatu yang baru selalu merongrong kita. Begitupun dengan saya dan mungkin juga dengan teman-teman yang lain. Membayangkan dunia yang baru tentu saja sangat menarik untuk diperbincangkan. Selama ini dunia yang kita tempati adalah representasi dari ide laki-laki (tentu tidak semuanya, tetapi kebanyakan adalah manifestasi dari ide laki-laki), tidakkah kalian tertarik bagaimana nantinya manifestasi ide-ide para perempuan?

Mungkin ada yang berpikir atau bahkan ketakutan jika perempuan diberi ruang sedemikian rupa maka kemungkinan kaum laki-laki akan balas ditindas?

Menurut saya itu adalah pikiran yang pendek dan naif sekali.

Secara singkat saya bisa menjelaskan kenapa perempuan perlu diberikan ruang untuk memanifestasikan gagasannya. Perempuan adalah makhluk yang berbeda dengan laki-laki, tetapi ia serupa dengan alam. Apa maksudnya? Perempuan dan alam adalah makhluk yang mempunyai kemampuan bereproduksi. Ia secara natural mempunyai sifat untuk memberi/berbagi dengan yang lain. Saat seorang perempuan hamil, ia dengan sukarela membagi ruang di dalam dirinya kepada janin, ia bahkan berbagai makanan dan nutrisi kepadanya, sama dengan tumbuhan yang membagikan sebagian dirinya dalam bentuk buah yang akhirnya dimakan oleh kita (manusia dan hewan). Kemampuan natural berbagi inilah yang meyakinkan saya bahwa perempuan tidak akan menindas laki-laki atau siapapun makhluk di muka bumi ini.

Hari ini kita mengenal gerakan yang disebut dengan ekofeminisme. Outline dari gerakan ini bila saya boleh menggambarkan adalah seperti pada paragraf di atas, ada hubungan erat antara perempuan dan alam serta bagaimana ia harus bergerak. Penjelasan lengkapnya bisa klik pada tautan ini* , saya pernah menulis juga tentang ekofeminisme di sini, sekenanya saya saja ya hehe. Tetapi poin pada tulisan ini adalah ‘bisakah semangat ekofeminisme itu kita bawa ke dalam ranah arsitektur dan perencanaan kota?’ Jawabannya tentu pasti bisa, tapi bagaimana? Di sini saya ingin mencoba mengenalkan satu celah kecil yang menurut saya bisa kita lakukan bersama.

Perkenalkan seorang “teman” saya bernama John Habraken. Ia adalah seseorang yang mengusulkan teori bernama Open Building, ia pernah berkata:

One of the fundamental objectives of Open Building is to restore the ‘natural relation’ between building form and the inhabitants. Design tends to assume that the inhabitants’ lives are generic. Buildings are so fixed in their aesthetics and functions that people must adapt to buildings, because buildings have not been made to be adaptable to the people who live in them.

Konsep ini mengusung pendekatan desain yang meningkatkan keragaman, fleksibilitas, dan kualitas ruang. Pendekatan ini memastikan pengguna ruang/user/aktor mempunyai ruang untuk mengintervensi ruangnya sendiri.

Ide untuk mengintervensi ruangannya sendiri adalah sebuah hal yang penting karena pada dasarnya sebuah individu mempunyai karakter dan hubungan emosional yang tersendiri terhadap ruang. Dengan begitu pengguna/user/aktor “diakui” sebagai agen pengambil keputusan dalam sebuah desain sehingga arsitektur menjadi lebih suitable terhadap kebutuhan suatu individu.

Sebagai contohnya, misalkan saja kita mau membeli sebuah apartemen. Pada umumnya saat kita akan membeli apartemen kita akan disuguhi sebuah brosur yang berisi unit-unit yang ada beserta desain interiornya yang sudah fix. Di situ kita telah dipilihkan desain macam apa untuk apartemen yang ingin kita beli. Kita sama sekali tidak diberi ruang untuk mengungkapkan ide/keinginan kita. Tetapi bayangkanlah jika saat kita ingin membeli apartemen kita bisa mencurahkan ide yang kita mau, kita bisa memesan desain seperti apa yang kita mau, kita bisa pesan luasnya sekian, kamar tidurnya seperti apa, luas ruang tamu seberapa dll. Tentu saja ada limitasi, seperti struktur, tangga, sanitasi, dan juga instalasi mekanikal elektrikal seperti ac, lift, dsb (hal ini disebut Habraken sebagai “support”, sesuatu yang permanen dan kolektif). Namun kita juga diberi kebebasan dalam menentukan seberapa besar dan mau bagaimana ruang itu digunakan (hal ini disebut sebagai Infill). Jadi bisa kita simpulkan ada yang namanya support dan Infill dalam teori ini. Support adalah sesuatu yang sifatnya kolektif dan permanen (seperti struktur bangunan, sanitasi, instalasi mekanikal elektrikal, tangga, dll) dan Infill adalah space di mana kita (sebagai user/aktor) mempunyai kebebasan dalam mengatur mau seperti apa ruang yang kita mau. Di sini kita bisa mendesain kamar seperti apa yang benar-benar cocok untuk kita, tidak sekedar menerima desain yang sudah dibuatkan oleh developer. Jadi coba bayangkan, jika ada beragam desain yang menarik dalam satu gedung apartemen karena setiap individu di sana tentu mempunyai selera dan kebutuhannya masing-masing.

Bila konsep ini kita tarik dalam ranah yang lebih luas (ranah kota), maka akan menjadi sebuah konsep Open Design. Outline-nya masih sama, yaitu tentang Support dan Infill. Pada gambar di bawah ini bisa kita lihat bersama mana yang Support dan mana yang Infill.

Struktur kota seperti jalan raya, blok bangunan dan juga infrastruktur yang umurnya bisa lebih dari 100 tahun bisa kita kategorikan sebagai Support dan yang berumur sekitar 25 tahun ke bawah bisa kita kategorikan sebagai Infill, inilah bagian dimana kita bisa mengintervensinya layaknya kita mengintervensi sebuah ruangan apartemen tadi.

Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) di Indonesia berlaku selama 20 tahun. Pada setiap 20 tahun itulah kita punya kesempatan untuk memperbaiki ruang Infill kita tersebut. Lalu pertanyaannya pasti akan muncul, siapa yang punya hak untuk menyampaikan suaranya dalam rangka perbaikan tersebut? Nah hal ini menjadi semakin menarik.

Kembali pada prinsip utama open building yaitu untuk mengembalikan relasi natural antara bangunan dan penggunanya, bila kita tarik secara lebih luas yaitu untuk mengembalikan relasi natural antara kota dengan penghuninya. Siapakah penghuni kota? Kita semua; perempuan, laki-laki, anak-anak, orang dewasa, seluruh profesi yang ada dalam kota, hewan, bahkan alam, semua itu adalah aktor yang mempunyai hak untuk menyumbang suara dalam perbaikan ruang kota kita. Open design sering juga saya sebut sebagai metode untuk mendemokratisasi desain karena ia seperti ‘mendengarkan semuanya’.

Namun, yang perlu digaris bawahi dalam kasus ini adalah ada satu aktor penting yang sering kita lupakan, ia bukan perempuan, tetapi ia adalah alam. Sebelum adanya kota, yang ada adalah alam. Lantas manusia mulai menempatinya dan pelan-pelan mulai menyingkirkannya. Akibatnya seperti yang kita lihat sekarang ini. Kerusakan alam tidak hanya merusak alam itu sendiri, tetapi juga mengancam kita semua. Oleh karenanya mau tidak mau kita harus mulai menyadari bahwa alam tidak bisa kita singkirkan seenaknya saja, pada dasarnya bila kita disuruh melawan alam yang akan kalah adalah kita. Maka jalan yang menurut saya masuk akal adalah hidup berdampingan bersamanya. Tetapi pertanyaan akan muncul lagi, bila alam punya hak untuk bersuara, maka bagaimana caranya ia bersuara? Apakah sesuatu yang non-human bisa berbicara?

Jawabannya bisa saja, tetapi bagaimana caranya? Ia bisa diwakilkan. Oleh siapa? Oleh yang mampu mengerti dirinya. Siapa? Ia adalah perempuan. Seperti yang sudah dijelaskan dalam paragraf diatas tadi, bahwa perempuan mempunyai kemiripan dengan alam. Kemampuan naturalnya dalam berbagi dengan makhluk hidup lain adalah hal yang sangat spesial yang tidak makhluk lain miliki.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa:

Jika Kartini mendesain sebuah kota, maka ada dua peranan penting dalam dirinya. Satu sebagai perwakilan atas dirinya sendiri sebagai perempuan, dan yang kedua adalah peranannya sebagai wakil dari alam.

 

Comments

Popular Posts