Saat Manusia Tiada Mengiya, Kepada Cermin Ia Bicara



Sebongkah batu tetiba pecah berkeping-keping. Batang-batang pohon bergoyang bak ingin rubuh. Daun-daun mulai menguning melayu. Tupai-tupai berlarian kalap amburadul. Pagi itu dunia secara mendadak kacau, bahkan mentari enggan bersinar sesaat setelah itu.

Rupanya, nun jauh disana seorang manusia berteriak begitu kencang. Entah apa yang terjadi, tetapi hal ini terjadi tidak hanya sekali. Melainkan berkali-kali dan semakin menjadi-jadi.

Pada pagi yang ke seribu, alam merasa koyak. Merasa tubuhnya hancur dan pegal-pegal nyeri. Teriakan demi teriakan terngiang begitu pagi menjelang. Akhirnya alam geram dan kesal. Ia terjunkan beberapa intel untuk mengintai apa yang sebenarnya terjadi.

Seekor tupai dan seekor burung ditugaskan untuk mengintai dan melaporkan apa yang dilakukan manusia itu. Tiba pada harinya, tidak ada yang salah dengan si manusia. Ia bekerja layaknya yang lain, makan selayaknya yang lain. 

Tetapi kala malam menjelang, si manusia pergi ke sebuah tempat minum. Bukan minuman keras, hanya sebatas teh atau kopi. Ia bertemu dengan temen-temannya. Bercengkrama seperti biasa. Tetapi lambat laun ada yang janggal kiranya. Teman-temannya hanya diam saja, tidak menanggapi dengan antusias.

Alhasil, pulanglah si manusia itu ke rumahnya. Ia kesal setengah mati mengapa suaranya tidak didengar oleh teman-temannya. Mengapa teman-temannya hanya berdiam atau sekedar mengangguk saja sambil tersenyum hambar.

Karenanya dia kemudian berdiri didepan sebuah cermin. Kepada cermin itu dia berbicara, tampak begitu bahagia. Segala yang dikatakannya terlihat begiti antusias, tanggapan cermin pun tak kalah antusiasnya. Sungguh percakapan yang begitu menyenangkan dan sehat.

Kejadian ini diamati berkali-kali oleh si tupai dan si burung. Mereka bahkan mengikuti teman-teman si manusia itu setelah pertemuan di tempat minum itu selesai. Sayup-sayup terdengar bahwa teman-teman si manusia itu muak dengan segala ocehan yang dilontarkan kepada mereka. Isinya hanya sekedar membanggakan diri dan membanggakan segala pencapaian yang diakui oleh si dia sendiri. “Bisa-bisanya orang menyematkan pencapaian untuk dirinya sendiri. Gunung tidak pernah mengaku dirinya besar. Langit tidak pernah mengaku dirinya tinggi.”

Comments

Popular Posts