Internet Education



Tahun 2020 memang serba mengejutkan. Awal tahun sudah diwarnai dengan berbagai macam hal seperti banjir hingga virus corona. Lalu, beberapa waktu belakangan ini kita digemparkan dengan praktik aborsi yang ternyata sudah beroperasi begitu lama.

Peristiwa praktik aborsi ini mengagetkan masyarakat, sebab banyak sekali mereka yang tidak menghendaki adanya bayi setelah berhubungan badan datang kesini untuk menggugurkan bayinya. Kiranya sudah ribuan calon bayi yang gugur ditempat ini.

Gema suara yang menyerukan pendidikan seks kepada anak-anak lantas mulai menguat didalam ruang publik kita. Tentu saja ada pro dan kontranya. Mereka yang kontra berpikiran bahwa dengan adanya pendidikan seks ditakutkan justru akan membuat anak-anak yang belum selayaknya melakukan hubungan seksual malah tertarik dan malah melakukannya.

Beda cerita dengan yang pro. Mereka berpendapat bahwa dengan adanya pendidikan seks ini justru anak-anak menjadi mengerti mengenai apa itu seks dan apa bahayanya bila dilakukan dengan tidak selayaknya. Dengan begitu mereka mempunyai pengetahuan yang cukup tentang seks sehingga rasa penasaran yang ada pada diri mereka tentang hal tersebut mulai luntur. Rasa penasaran yang besar dan ketidakcukupan pengetahuan umumnya membuat mereka ingin coba-coba. Hal inilah yang menjadi pintu gerbang pertama. Oleh karenanya dengan pendidikan seks, hal tersebut mampu dicegah.

Hingga hari ini perdebatan ini masih terus berlanjut. Sayangnya belum ada tanggapan yang jelas dari pemerintah mengenai hal ini.

Selain hebohnya praktik aborsi. Dewasa ini kita juga disuguhi dengan peristiwa seorang siswi SMP yang membunuh temannya sendiri dengan cara yang sadis. Anak ini mengaku terinspirasi oleh film-film psikologi-horor yang ia tonton di internet. Anak ini bahkan secara sadar melakukannya hingga menuliskan “diary” tentang apa yang ia lakukan di akun facebooknya. Ia juga menggambar hal-hal yang mengarah pada perilaku BDSM seperti gambar wanita yang di tali (bondage).

Sontak peristiwa tersebut menggegerkan masyarakat. Siapa yang menyangka seorang siswi SMP mempunyai imajinasi di kepalanya tentang hal semacam itu, bahkan sampai membunuh temannya sendiri.

Berkaca dari dua kasus diatas, sudah selayaknya kini pendidikan tentang internet harus diperhatikan. Internet adalah dunia yang sangat luas. Kita bisa menemukan hal apapun disana, mulai yang baik hingga yang buruk. Bagi orang dewasa, membedakan mana yang baik dan buruk mungkin perkara yang cukup mudah. Tetapi bagaimana dengan anak-anak?

Rasa penasaran yang masih sangat tinggi dan keluasan informasi yang mampu mereka dapatkan disana tentu akan memicu semangat untuk mencari tahu lebih dalam dan lebih dalam lagi. Syukur bila informasi yang dicarinya adalah informasi yang baik, tetapi bila sebaliknya maka sangat disayangkan juga. Terlebih lagi dengan adanya algoritma yang terpasang pada mesin pencari, maka hal-hal yang berkaitan dengan apa yang pernah dia cari akan bermunculan dengan sendirinya. Hal ini terkadang bahkan tidak dipahami oleh orang dewasa.

Pada beberapa layanan seperti YouTube sudah memberikan segmentasi untuk anak-anak. Namun pada realitanya tidak semua orang tua paham tentang hal tersebut. Dunia digital pada dasarnya masihlah awam bagi sebagian besar masyarakat kita. Disisi yang lain perilaku orang tua yang dengan sengaja memberikan akses gadget kepada anaknya supaya anaknya anteng dan tidak rewel juga turut andil dalam masalah seperti ini.

Kiranya pendidikan mengenai internet sudah selayaknya masuk dalam kurikulum sekolah kita. Hal-hal dasar mengenai algoritma dan teman-temannya sudah saatnya untuk diajarkan kepada mereka. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kini anak balita pun sudah langsung bersentuhan dengan dunia digital, fakta ini seharusnya mendorong kita untuk memberikan kesadaran mengenai apa yang mereka hadapi sejak dini.

Comments

Popular Posts