Mengapa Aku Menulis
![]() |
| Sumber: https://www.freepik.com/free-vector/notes-concept-illustration_6183538.htm#page=1&query=writing&position=11 |
Semenjak menginjak Sekolah Dasar (SD), setiap tengah semester dan akhir semester maka kita akan mengikuti yang namanya Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Pada soal ujian Bahasa Indonesia biasanya akan ada soal untuk mengarang sebuah cerita. Pada waktu itu, soal semacam itu adalah kelemahan saya. Saya benar benar tidak mengerti bagaimana caranya mengarang cerita. Daya imajinasi saya sangatlah lemah waktu itu. Untuk menceritakan saya pergi ke pasar membeli telur. Saya akan menuliskannya dengan sangat singkat, hanya beberapa kalimat saja dan hanya akan jadi satu paragraf pendek. Begitu susahnya bagi saya untuk menulis.
Selain itu saat SD, kita juga didorong untuk selalu membaca buku. Guru selalu mengatakan bahwa buku adalah jendel dunia, tetapi saya benar-benar tidak mengerti maksudnya waktu itu sebab buku yang disodorkan kepada murid-murid adalah buku paket pelajaran yang mana isinya adalah soal-soal yang harus dikerjakan. Dunia sebelah mana yang bisa saya lihat dari sebuah buku berisi soal-soal? Akhirnya disitu saya sama sekali tidak pernah membaca buku, paling pol hanya membaca dua komik Ninja Hatori. Waktu menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP) pun sama saja, saya sama sekali tidak berminat dengan kegiatan baca tulis.
Keadaan mulai berubah ketika saya menginjak bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa teman saya ternyata suka membaca buku. Mereka sering bercerita tentang buku yang mereka baca hingga membuat saya tertarik untuk ikut membacanya. Akhirnya saya meminjam buku itu dari teman saya. Buku yang saya pinjam adalah novel dan kebetulan novel-novel itu memang bagus ceritanya. Saya menikmati, tetapi tetap saja belum ada hasrat untuk membaca lebih jauh, apalagi untuk menulis.
Setelah lulus dari SMA saya memasuki bangku Perguruan Tinggi. Disana saya kembali menemukan beberapa teman yang suka membaca buku. Selain itu pemahaman akan politik juga semakin terbuka, jejaring informasi saya mulai meluas, internet sudah menjadi hal yang berdampingan dalam hidup sehari-hari. Platform seperti YouTube membawa saya pada pengembaraan informasi yang lebih jauh. Berkat internet, saya mengenal forum seperti Maiyah, Komunitas Salihara, Jurnal Perempuan, pidato-pidato kebudayaan, kuliah-kuliah filsafat, ceramah politik, sastra, dan lain sebagainya.
Kumpulan forum itu lantas membuat saya terpana, betapa hebatnya orang-orang yang berbicara disana. Apa yang mereka pelajari? Darimana mereka mendapat informasi semacam itu? Ternyata jawabannya adalah dari buku, baru kemudian saya sadari bahwa mereka-mereka ini ternyata juga menulis buku.
Akhirnya saya mulai untuk mengetik nama-nama mereka pada mesin pencari untuk mencari buku apa saja yang telah mereka baca dan juga mereka tulis. Buku pertama yang membawa saya pada pemahaman yang lebih luas adalah buku Kekerasan dan Identitas karya Amartya Sen. Buku ini berhasil membuka pikiran saya bahwa kekerasan atas nama agama tidak lantas disebabkan oleh kefanatikan yang tinggi atas suatu kepercayaan, tetapi karena kemiskinan. Pada titik ini saya sangat kagum dengan buku. Saya pikir buku hanya akan bercerita tentang suatu hal, saya tidak pernah menyangka bahwa ia bahkan mampu untuk mendekonstruksi pikiran saya sedalam itu.
Seiring banyak informasi yang lalu-lalang dalam sekeliling saya, suasana politik saat itu juga membuat saya berpikir lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini memicu saya untuk mencari tau lebih banyak, untuk mencoba membaca lebih banyak, bukan untuk berniat apa-apa, hanya sekedar ingin tau bagaimana sesungguhnya dunia yang saya tinggali ini bekerja. Hingga hari ini semangat itulah yang menjadi api bagi saya untuk terus membaca. Sungguh aneh rasanya ketika saya tidak mampu mentelaah segala sesuatu yang terjadi di sekeliling saya. Walau kita semua mengerti untuk mencapai pemahaman yang holistik tidaklah mudah, tetapi setidaknya kita berusaha semampu-mampunya untuk mencapainya.
***
Ketika kuliah saya mendekati semester akhir, terpikir dalam benak” saya mau kerja dimana ya?”. Apalagi saat itu adalah saat-saat dimana saya meragukan jurusan saya sendiri. Saya berpikir untuk mencoba bekerja diluar disiplin ilmu yang saya pelajari. Terbesitlah saat itu untuk menulis saja, sepertinya menyenangkan, apalagi bisa dikerjakan dari rumah. Hal klise yang hingga hari ini tidak pernah terjadi, tulisan saya tidak pernah dimuat dimanapun, apalagi menghasilkan uang. Haha.
Namun kiranya, saya tetap merasa beruntung karena pernah punya semangat itu. Pada akhirnya saya benar-benar menulis waktu itu dan ternyata sulit. Tidak semudah yang dibayangkan. Satu hal yang saya sadari sejak saat itu adalah bahwa untuk menulis perlu membaca. Sungguh sesuatu yang sulit untuk menulis tanpa kita pernah belanja gagasan pada buku-buku. Pada titik ini saya mengerti mengapa orang yang menulis itu suka sekali membaca buku.
Saat kita menulis, ternyata secara tidak langsung kita dituntut untuk mempunyai cara berpikir yang runut, untuk melihat segala sesuatu dengan lebih detail, peduli dengan kata-kata, belajar menyampaikan pesan, belajar retorika dan lain sebagainya.
Saat kita menulis, secara tidak langsung kita juga belajar hal baru. Tidak hanya orang yang akan membaca tulisan kita, tetapi juga kita sendiripun turut belajar. Pramoedya Ananta Toer pernah menulis dalam bukunya yang berjudul Anak Semua Bangsa,
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
Sejak dahulu saya sudah tertarik dengan kalimat ini, tetapi saya kurang mengerti apa maksudnya. Memangnya apa yang istimewa dari seseorang yang menulis? Apa hebatnya seseorang yang menyusun kata-kata?
Kini saya mulai mengerti apa yang dimaksudkan Pram. Kiranya tak perlu saya jelaskan apa yang saya mengerti ini. Sebab yang sudah mengerti pasti mengerti dan bagi yang belum mengerti maka saat ini adalah waktumu untuk mengembarai kata-kata.
***
Dalam perenungan saya, kiranya hidup dimulai dari membaca. Membaca wajah ayah dan ibu, membaca kucing, membaca tanah, angin, dan pohon, membaca langit, membaca alam semesta. Seluruh pengetahuan yang kita punya berasal dari membaca. Lantas kita menulis dan menulis untuk mampu meramunya menjadi sesuatu yang baru.
Membaca dan menulis dalam arti yang luas adalah kemampuan dasar dari seorang manusia. Oleh karenanya, sungguh aneh bukan bila kini kita tidak bisa membaca dan menulis?



Comments
Post a Comment